Langsung ke konten utama

Jadi Peserta Seminar. Baiknya Gimana?

seminar

Hai Milennials, apakah generasi saat ini masih haus ilmu seperti generasi-generasi terdahulu? Yang kutahu generasi muda saat ini lebih senang dengan gadgetnya karena merasa disitu ada segudang ilmu yang bisa dipetik, padahal sih dibandingkan lewat layar kaca, ilmu yang diserap dengan pertemuan secara langsung kepada si pemberi ilmu justru  menghadirkan kesan dan kelebihan-kelebihannya tersendiri.

Seminar, kata ini udah akrab banget di telinga kita ya.  Seminar termasuk agenda yang paling sering diadakan oleh berbagai instansi, perkumpulan dan lain sebagainya. Dibandingkan dengan kegiatan serupa seperti workshop, pelatihan, bimtek, sharing dan lain-lain, agenda seminar masih lebih sering diadakan karena bisa melingkupi berbagai materi.

Menurut situs Wikipedia.org, Seminar pada umumnya merupakan sebuah bentuk pengajaran akademis, baik di sebuah universita  maupun diberikan oleh suatu organisasi komersial atau profesional. Kata seminar berasal dari kata Latin seminarum, yang berarti "tanah tempat menanam benih".

Nah kata-kata “tanah tempat menanam benih” memiliki arti yang penting, bahwasannya seminar  diibaratkan tempat dimana banyak benih-benih ilmu disebarkan, dan peserta yang hadir sebagai wadah untuk menyemai, dimana nantinya benih yang disemai itu bisa dirawat dengan sebaik-baiknya hingga nanti dapat berguna bagi hidup dan kehidupannya.

Oleh karena itu tak salah memang mengapa banyak orang yang berbondong-bondong datang ke seminar yang menghadirkan pemateri handal, karena tahu bahwa disitu akan disebarkan benih-benih ilmu yang berkualitas.

Jadi, jika kamu menjadi peserta seminar, bagaimana baiknya agar seminar yang dihadiri bisa bermanfaat bagi dirimu

1.  Tetapkan Niat


seminar
sumber : ibadah.co.id
Ini menjadi hal penting harus diperhatikan sejak awal. Apa sih tujuannya ikut seminar? Apakah karena hanya untuk mengisi waktu luang? Untuk mendapatkan sertifikat? Bisa foto bareng dengan pemateri? Atau hanya ingin dapat doorprize yang menarik?

Gak salah sih memang namun alangkah ruginya jika  niat sejak awal sudah tidak baik, padahal di seminar itu akan disebarkan berbagai benih-benih ilmu, ruginya jika kamu tidak bisa mendapatkan benih itu.

Inget loh, doorprize nantinya bisa rusak, tapi ilmu yang diamalkan akan tetap kekal dan membekas di dalam diri.

2.   Siapkan Gelas Kosong
gelas-kosong
sumber : twitter.com
Maksudnya bukan menyiapkan gelas kosong buat minta minum ya, hehe.. Maksudnya adalah menyiapkan diri layaknya gelas gosong. Menyiapkan diri layaknya gelas kosong akan mampu membuat kamu menjadi pribadi yang rendah hati dan berpikiran terbuka serta tidak sombong seakan-akan kamu sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi. Jikapun kamu memiliki ilmu yang banyak, pada saat mengikuti seminar pastikan kamu sudah memposisikan dirimu sebagai orang yang siap menampung benih-benih ilmu, yakinlah semakin kamu giat untuk mencari ilmu maka kamu akan merasakan dirimu semakin kurang dalam ilmu pengetahuan, jauhilah sifat sok tahu dan sombong, di atas langit masih ada langit lagi.

3.   Jangan Gangguin Peserta Lain
memanggil
sumber : youtube.com
Hanya karena orang di bangku sebelah adalah gebetanmu bukan berarti kamu bisa seenaknya gangguin dia saat seminar berlangsung ya. Setiap peserta seminar memiliki hak yang sama dalam menerima materi, so, jangan ambil hak-nya dia ya, kalau soal mau pedekate sama dia, nanti aja deh setelah seminar -_-

4.  Bertanya
bertanya
sumber : david-pranata.com
Nah ini bisa jadi indikasi apakah gelas kosongmu sudah terisi? Jika setelah seminar berakhir kamu memiliki pertanyaan yang bisa diajukan, itu artinya kamu memang benar-benar menyimak materi dari awal sampai akhir. Jika ada kesempatan itu, cobalah untuk bertanya hal-hal yang tidak kamu ketahui, yakinlah setelah bertanya dan mendapatkan jawabannya dari pemateri kamu akan merasa lebih rileks dan merasa lebih tahu dari sebelumnya

Baca Juga :

5.  Gak Pelit Berbagi
share
sumber : douglascayers.com
Berbagi itu sejatinya mengasikkan loh, gak percaya? Kalau ada temaanmu yang gak bisa datang seminar, coba deh jadi orang baik yang mau memberikan kesimpulan atas apa yang sudah kamu dapat di seminar, bisa dengan membaca kembali catatan yang kamu tulis saat seminar. Siapa tahu nih karena apa yang kamu sampaikan itu, temanmu jadi orang yang lebih baik.

6. Foto Sebagai Motivasi
selfie-wefie
sumber : facebook.com
Gak salah kok foto dengan pemateri asal tahu batas ya, udah tahu bukan mahromnya eh malah deketnya nempel-nempel apalagi sampe peluk-peluk, duh pulang seminar malah dapet dosa, rugi dong ya. Berfoto dengan pemateri boleh saja namun diniatkan agar memiliki kenangan dan menjadikannya sebagai motivasi agar dirimu kelak juga bisa menjadi sepertinya yang mampu menebarkan benih-benih ilmu kebaikan.

Nah, begitulah caranya agar menjadi peserta seminar yang baik, semoga bermanfaat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ingin Hijrah Ke Pakaian Syar’i? Begini Caranya Agar Istiqomah

Kini kata “hijrah” sudah booming banget ya, oleh karena itu dimana-mana akan mudah kamu temukan cerita, tulisan atau pengalaman orang-orang tentang hijrahnya. Ada cerita dengan alur yang begitu mulus, cerita yang biasa-biasa saja hingga cerita yang begitu pelik dan penuh drama.
Iya, setiapinsan pasti punya cerita hijrahnya sendiri, itupun kalau berani memulainya, jikalau tidak berani memulai maka cerita itu tidak akan aada.
Sebenarnya, apa itu hijrah? Hijrah secara harfiah berarti “meninggalkan”, dan sering diartikan meninggalkan sesuatu yang buruk menuju ke sesuatu yang lebih baik. Sangat mudah memahami arti kata hijrah ini, jika kita saat ini sedang menjalani sesuatu yang buruk dan tidak disukai oleh Allah SWT maka kita harus hijrah dengan melakukan sesuatu yang baik dan disukai oleh Allah SWT.
Ada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang disampaikan ketika beliau hijrah dari Mekah ke Madinah: "Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah …

Bijak dalam Konsumsi Pangan, Bantu Pertahankan Keanekaragaman Hayati demi Sumber Pangan dan Kesehatan

Semakin waktu bergulir maka era pun semakin modern dimana kini mayoritas masyarakat di dunia cenderung menerapkan gaya hidup serba instan dan jauh dari kebiasaan masa lampu, tak terkecuali soal pangan. Kini, tak sedikit masyarakat yang tidak mementingkan dari mana makanan mereka berasal, yang penting hanyalah bagaimana mereka bisa melepaskan rasa lapar melalui makanan-makanan yang enak, mahal atau bahkan makanan yang ter-update.

Mari kita sejenak menelisik ke masa-masa lampau dimana saat itu manusia mengolah makanan dengan rangkaian proses yang panjang. Memang mungkin kamu yang membaca ini tidak pernah merasakan bagaimana proses membuat makanan dari nol tapi kita tahu dari sejarah atau cerita orang tua bahwa dahulunya masyarakat memulai semuanya dari kegiatan menanam, memelihara, memanen, menjemur atau mengeringkan, menunggu berhari-hari atau berminggu-minggu hingga mengolahnya sampai menjadi makanan yang siap disantap, semuanya memerlukan proses yang bersinergi dengan alam sebagai tem…

Ke Kabupaten Bungo? Ini 20 Rekomendasi Wisata yang Bisa Kamu Kunjungi

Bungo merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jambi, Indonesia. Luas wilayah 4.659  km² (9,80% dari luas Provinsi Jambi) dengan populasi 303.135 jiwa (Sensus Penduduk Tahun 2010). Kabupaten ini ber-ibu kota di Muara Bungo. Sebelumnya merupakan pemekaran dari Kabupaten Bungo Tebo. Kabupaten ini terdiri dari 17 kecamatan. Kabupaten ini memiliki kekayaan alam yang melimpah di antaranya sektor perkebunan yang ditopang oleh karet dan kelapa sawit dan sektor pertambangan ditopang oleh batubara. Selain itu Kabupaten Bungo juga kaya akan emas yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Bungo (Wikipedia. Diakses 2019).

Batas-batas wilayah Kabupaten Bungo adalah sebagai berikut:


Utara : Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat
Selatan : Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi
Barat : Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
Timur : Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi

Kota Bungo mengalami perkembangan yang semakin pesat akhir-akhir ini terlebih sejak berdirinya Bandar Udara Muara Bungo yang me…