Cerpen : Kematian Sebatang Pohon Pisang



Sebatang pohon pisang di halaman belakang kontrakan sederhana itu tampak selalu baik-baik saja. Akar serabutnya kuat menjalari tanah yang tertimbun bekas bakaran sampah-sampah rumah tangga dan membuatnya tampak subur. Dua buah jantungnya mencuat keluar seolah terpisah dari jagaan batang yang tampak tegap menjulang, sementara itu masih terjuntai beberapa baris buah yang masih amat muda.

Kondisinya masih terus begitu hingga kemudian hujan yang berlangsung nyaris satu harian datang mengawali musim basah di awal tahun ini. Rintiknya yang kadang menggerimis dan melebat mengiringi kedatangan pemilik warung bakso pendatang baru di sebuah kawasan perumahan cukup padat penduduk. Perumahan ini letaknya cukup strategis, di sebuah ibukota kabupaten. Kepergian yang didasari rasa rindu itu dibalas dengan kepulangan yang didasari rasa semangat untuk melanjutkan kehidupan. Waktu liburan akhir tahun bersama sanak famili di kampung nun jauh di seberang pulau sudah berakhir.

Tiada diterka kepulangan pemilik warung bakso itu disambut oleh hujan yang seakan tak ingin berhenti, juga oleh sebatang pohon pisang satu-satunya yang selalu merindui pemiliknya. Durasi hujan yang lama seringkali ditafsirkan sebagai keberkahan bagi banyak orang, meski ada juga yang menganggapnya sebagai bencana.

Namun semakin tak disangka, beberapa menit setelah para pemilik pohon pisang itu sampai dengan selamat dan meneduhkan diri, pohon pisang yang terlihat kokoh itu menjadi lemah tak berdaya, semakin rapuh hingga rintik hujan yang tak begitu deras berubah menjadi kekuatan gravitasi yang amat dahsyat, akar-akarnya melemah hingga mencuat ke permukaan, buahnya yang muda itu terasa begitu berat dan menariknya terus-terusan menuju tanah.

Si pohon pisang kesayangan akhirnya tumbang, tanpa sebab yang pasti, dalam kondisi yang baik-baik saja, hingga cukup membekaskan luka, akankah kedatangan pemiliknya menjadi kesialan hidupnya?
Sebulan kemudian warung bakso milik Bukle Astri dan Pakle Ijul terlihat kian ramai, betapa tidak, mereka telah mendapat tambahan curahan tenaga dari seorang gadis bernama Asih.

Gadis yang berlesung pipit itu dibawa oleh Bukle Astri dari kampungnya, bukan sebagai oleh-oleh dari kampung, tapi gadis itu dibawa untuk disekolahkan di SMP sambil membantu mengepulkan asap di dapur warung bakso miliknya, gadis itu tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.

Bukle Astri tentu merasa sangat terbantu akan kehadiran Asih, Jika selama ini yang mengurus dapur Pecel Lele mereka hanya ia dan suaminya, kini ada Asih akan ikut berbagi penat, Asih juga dimintai untuk merawat keponakannya, satu-satunya anak Bukle Asri dan suaminya yang berumur tiga tahun.
Bukle Astri tentu tidak punya pilihan lain mengingat begitu banyak adik-adiknya yang tidak mampu lagi bersekolah karena kucuran dana yang sangat minim dari orang tua mereka. Oleh karena itu melalui usaha satu-satunya di perantauan ini, mereka harus bekerja keras.

Alhasil nyaris lima bulan sudah Asih berpindah peraduan, warung bakso mereka bertambah ramai dan kian ramai, masakan yang enak serta harga yang terjangkau membuat mereka bisa mempertahankan jalannya roda penjualanan. Bahkan kini mereka bisa menambah luasan lokasi jualan.

Kesibukan baru Asih begitu padat, tugas sekolah yang menumpuk, warung bakso yang menanti kehadirannya setiap waktu serta keponakannya yang selalu mencuri perhatiannya terkadang membuat pikirannya sulit fokus, hingga ia pun sulit memiliki teman dan tidak pernah memiliki waktu bermain yang cukup.

Seiring berjalan waktu, omset penjualanan basko terus seimbang dan cenderung menanjak namun Asih semakin tidak seimbang, semakin lama Asih jadi semakin malas-malasan membantu warung, tidak lagi suka mengasuh keponakannnya, dan juga sering bolos dari sekolahnya. Ia terus uring-uringan dan tak menjumpai lagi semangat hidupnya.

Malam demi malam semakin membuat Asih kacau. Gadis yang dulunya dikenal periang dan penuh ocehan itu, kali ini menjadi Asih yang pendiam dan tertutup. Ia sering beralasan yang tidak masuk akal. Asih mengaku sering melihat kaca-kaca di kamar menertawakannya serta buku-buku di rak membicarakannya. Ia pun mengemukakan keinginan untuk berhenti sekolah.

Keterangan-keterangan Asih yang tak masuk akal membuat Bukle Astri disulut api kemarahan hingga berencana akan memulangkan adiknya itu ke kampung halaman sesegera mungkin, lagipula sejak Asih berubah sikap, warung bakso mulai sepi tidak seramai sebelumnya, padahal tak ada yang berubah dari kualitas pelayanan dan kualitas bakso mereka namun warung tetap saja sepi, entah apa penyebabnya, rezeki yang tadinya katanya tak berpintu karena bisa datang dari mana saja, kini benar-benar tak ada pintu yang bisa dibuka untuk mempersilakan rezeki masuk,
Rencana tak sesuai rencana.

Pagi itu adalah hari libur dan Asih terpaksa diminta untuk menjaga keponakannya, meski sempat khawatir dengan kondisi Asih yang sedikit aneh akhir akhir ini, namun tak ada orang lain yang bisa menjaga anak kecil itu.

Hingga sore hari warung semakin menyepi dan terdengar suara keributan dari dalam rumah, Bukle Astri teringat akan balita kecilnya dan segera memeriksa rumahnya, matanya terbelalak saat menemukan darah berceceran di lantai rumah, ia menuju kamar anaknya dan disana anak balitanya telah bersimbah darah, pucat. Sedangkan Asih, adiknya, memojok di sudut kamar menutupi wajahnya dengan jari tangannya sendiri sedang melingkari sebilah parang.

“Anakku….”
Bukle Astri berteriak keras, dipeluklah anaknya dan ia semakin histeris saat mengetahui anaknya sudah tidak bernyawa. Suaminya pun datang dan ikut berteriak. Mata lelaki itu terbelalak melihat putrinya berlumur darah.

“Asih. Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu membunuh anakku? Ini keponakan kamu. Kamu gila Asih.”
Tangisan Bukle Astri tak terbendung.
Asih masih saja mematung, parang yang digenggamannya bergerak-gerak disebabkan tangannya yang bergetar hebat. Mungkin tak hanya tangannya yang bergetar, namun juga hatinya, ia tak mampu merasakan apa yang digambarkan oleh hatinya. Gadis itu tak mengeluarkan sepatah katapun.
“Asih, jawab aku!”

Mata Bukle Astri menuju Asih dan memaksanya bicara.
Asih perlahan melepaskan benda tajam yang ada di genggamannya, melihat kepada dua orang yang membelalakkan mata kepadanya, ia lalu memasang mata yang juga tak kalah membelalak. Tak lama kemudian suaranya keluar begitu saja.

“Tanyakan dia! tanyakan dia!” Jawab Asih.
Telunjuk Asih mengarah ke pintu kamar, tepatnya ke wajah seorang laki-laki yang tengah mematung sebab masih dalam zona keterkejutan yang amat dahsyat.

“Apa maksud kamu Asih, jawab.” Bukle Astri meminta penjelasan. “Aku membawa kamu kesini untuk menyekolahkanmu, aku beri kamu uang, tempat tinggal, apa salahku Asih.” Tangis Bukle Astri semakin menjadi, begitu pula suaminya yang mulai terisak di depan pintu.

“Tanya dia!”
Telunjuk dan bola mata Asih masih mengarah kepada satu-satunya lelaki di situ, suami Bukle Astri.
“Tanya dia! Mengapa dia mau membawaku kesini? Mengapa? Apa karna dia mau aku dan tubuhku?”
Asih berbicara dengan nada yang semakin meninggi, ia seperti menumpahkan kata-kata yang selama ini membuat lidahnya kelu, menumpahkan perasaan yang telah lama membuat dadanya sesak serta pikirannya yang terhimpit.

“A.. apa maksud kamu, Asih?”
Bukle Astri merasakan pikirannya yang semakin kacau, ia lalu melihat Pakle Ijul suaminya, Asih adiknya serta jasad putrinya bergantian, rona kebingungan semakin jelas memenuhi wajahnya.

“Biarkan saja anak kalian mati, di perutku ini sudah ada janin, aku ganti bayi kalian!”

Komentar

Postingan Populer