Langsung ke konten utama

Cerita Wawancara Beasiswa Tanoto Foundation

Cerita Wawancara Beasiswa Tanoto Foundation
Tanoto Foundation didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei dengan visi menjadi lembaga yang memperbaiki taraf hidup melalui pendidikan, pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup. salahsatu program yang dimiliki Tanoto Foundation adalah beasiswa dengan berbagai jenis. lebih lengkap lihat di http://www.tanotofoundation.org/

Cerita ini terjadi tahun 2014

Salahsatu beasiswa yang ditawarkan adalah National Champion Scholarship yang mana beasiswa ini diperuntukkan bagi mahasiswa S1 dan S2 di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
Sebagai salahsatu penerima beasiswa tersebut, berikut saya sampaikan cerita pengalaman wawancara beasiswa Tanoto Foundation.

Stay Here >>>>

Berawal dari niat yang akhirnya menjadi nyata. Yap, dahulu kala itu, (jaman purba kali ya), niat yang berasal dari lubuk hatiku paling dalam adalah (ciee yang lebay). Ini nih “Kalau lolos semua tahap seleksi dan mendapat beasiswa Tanoto Foundation, tulisan tahap wawancara yang merupakan tahap terakhir seleksi beasiswa akan aku publish di dalam blogku ”

Nah, kalo kalian membaca tulisan ini di blog aku, artinya?...





(krik krik) Oke kita mulai.






Mengapa aku share tentang wawancara? Kasih tau gak yaaa? Kalo aku bilang gak mau kasih tau, kalian pasti gak mau baca lagi kebawah
Sok tau haha

Wawancara merupakan tahap paling penting dalam sebuah perekrutan organisasi apapun, sebab tahap wawancara mampu memberikan bukti real dari kepibadian seseorang yang melamar, termasuk pula dalam perekrutan penerima Beasiswa. Tanoto Foundation, yayasan ini juga menerapkan seleksi melalui wawancara dalam memilih siapa yang akan menjadi Tanoto Scholars, sebutan untuk penerima beasiswanya..

Pengumuman tentang adanya penerimaan beasiswa Tanoto Foundation kuketahui disaat menginjakkan kaki di semester 2 perkuliahan. Singkat cerita aku berhasil lolos dalam seleksi pertama yakni seleksi berkas. Seleksi kedua ialah seleksi psikotest dan dinamika kelompok yang alhamdulillah telah kulalui dengan cukup lancar. Kemudian selanjutnya, tahap terakhir yakni tahap wawancara.



***
Deg-deg-an menghiasi perasaanku saat pengumuman kelolosan psikotest, lega bisa ke tahap akhir. Berbagai pikiran pun berkecamuk tentang mengerikannya tahap wawancara yang selama ini aku dengar. Dilain sisi, ucapan selamat pun berdatangan yang membuat pikiranku bertambah berat. Namun semua coba kujalani dengan tenang. Meskipun jikalau nanti aku tidak lolos wawancara, setidaknya aku  telah mendapatkan pengalaman seleksi hingga ke tahap akhir dan kemudian bisa menuliskannya, begitulah pikirku waktu itu.

Aku sengaja berencana datang 1 jam lebih awal dari jadwal wawancaraku. Selain ingin melihat situasi dan kondisi, bisa memberikan peluang untuk beristirahat dan menenangkan diri, datang lebih awal juga mampu memberikan kesan profesional, tidak menjalankan kebiasaan jam Indonesia yang terkenal yakni jam karet. hihi

Perjalanan dari kontrakan ke kampus adalah 15 menit, saat itu wawancara dilaksanakan di gedung rektorat kampusku, Universitas Jambi. Aku pergi pukul 10.15 sedang jadwal wawancaraku pukul 11.30. Saat akan memasuki gerbang utama Unja, aku melihat beberapa mobil polisi berderet di depan gerbang utama serta banyak anggota polisi yang berjaga di sekitaran gerbang, mereka memperhatikankku ketika melewati mereka, takutnya jika aku teroris kali ya, huh.

Hingga ke rektorat, polisi-polisi ini semakin banyak jumlahnya, aku jadi bingung, apakah Tanoto Foundation sekaligus mengadakan training untuk polisi ya? Apa hubunganya dengan beasiswa? (ngaco)

Hingga mulai menaiki tangga ke lantai 3 tempat wawancara dilaksanakan, seorang satpam yang sedang berdiri di salahsatu anak tangga menanyaiku,

“Mba mau kemana?” Tanyanya ketika aku telah berada satu meter darinya.
“Ke atas.” Jawabku sambil menunjuk ke arah atap.
“Keatas, dimananya?” Tanyanya lagi. Aku jadi sedikit jengkel, ni satpam kok mau tau detail banget ya urusanku. Mana aku lagi dilanda deg-deg-an yang cukup dahsyat pula. Kalo aku bilang mau ke kamar kecil di lantai empat, gimana? Pasti aku akan diinterogasi, ya iyalah, toh ni gedung cuma sampe lantai tiga.
“Lantai 3, mau wawancara beasiswa” Jawabku lagi, langsung to the point, berharap ia tidak bertanya lagi.
“Ohh iya...” Jawabnya kemudian seakan mengerti tujuanku

Akupun melanjutkan perjalanan menaiki tangga, aneh sekali, penjagaannya begitu ketat. Hingga keatas barulah aku mengetahui bahwasannya ada pejabat dari Amerika Serikat yang datang, kini ia berada tepat disebelah ruang wawancaraku. Ternyata gedung bisu ini begitu sibuk.
Sesampainya disana, aku bertemu teman sekelasku yang juga lolos wawancara beasiswa, dari kelasku hanya kami berdua yang lolos seleksi hingga ke tahap ini. Urutan jadwal wawancaranya, temanku ini dua nomor lebih dahulu dariku.

Sebelum memulai wawancara dan menunggu giliran, aku disuruh mengisi formulir yang berisi data pribadi, ya lebih kurang  mirip dengan formulir saat pengiriman berkas dahulu, hanya saja yang ini lebih singkat, 2 lembar. Aku mengisi dengan sebaik-baiknya, tidak jarang juga aku bertanya pada temanku yang telah lebih dahulu mengisi formulirnya.

Aku teringat bahwa almamater yang menjadi syarat wajib saat wawancara aku tinggalkan di motor, sedangkan motor itu diparkir di halaman depan gedung ini. Oh lupa sekali, dan aku malas sekali turun tangga menemui tanah dan melewati satpam serta polisi itu. Untunglah temanku  yang sekelas ini mau meminjamkan setelah ia wawancara, tak apalah, toh temanku itu juga minjam sama sepupunya. Emang benar-benar seperjuangan. hoho

Saat temanku telah selesai wawancara, masih ada satu orang lagi diantara kami yang membuatku harus menunggu sebentar lagi, waktu yang diberikan untuk wawancara adalah maksimal 30 menit.

“Bagaimana?” Tanyaku pada temanku setelah ia keluar dari ruangan.
“Hmm gitulah, pertanyaannya yang seputar esai.” Jawabnya singkat.
“Ooh...” Kataku mengakhiri.

Aku tidak bertanya lagi, bertanya hanya akan menambah sibuk, aku hanya akan lebih konsentrasi menghilangkan kegugupan yang ada di menit-menit terakhir sebelum masuk ruangan. Aku kemudian memakai almamater temanku, kami telah sepakat akan ke perpustakaan setelah wawancara. Saatnya memikirkan tugas yang menumpuk, sebab selama beberapa hari ini pikiranku hanya terfokus kepada wawancara ini. Karena aku percaya hasil yang baik hanya akan didapat dari usaha dan kerja keras yang baik pula, serta pandai menentukan prioritas.

Saat wawancarapun tiba, aku menuju tempat duduk yang tepat berada didepan 3 orang pewawancara, 2 orang laki-laki serta satu orang perempuan. Seorang perempuan itu berada di kursi paling pinggir disebelah kananku.

Aku menyerahkan formulir lalu duduk di hadapan mereka. Aku mencari posisi yang nyaman untuk duduk.

Mereka memperkenalkan nama mereka, dan serius ya hanya satu nama dari mereka yang aku ingat sebab namanya cukup unik, ia laki-laki yang berada paling kiri dari hadapanku.
Sebelumnya ia, laki-laki yang aku ingat namanya itu mengucapkan selamat atas kelulusanku hingga tahap wawancara, dia menanyakan darimana aku mengetahui tentang beasiswa Tanoto Foundation. Lalu ia menanyakan siapa saja teman sekelasku yang lulus hingga tahap ini.
Pertanyaannya sangat banyak hingga aku lupa urutannya.

Yang pasti, hal pertama yang mereka inginkan dariku adalah menjelaskan latar belakang keluargaku, semua tentang keluargaku yang pantas diceritakan tentunya. Akupun menjawab dengan menceritakan perihal asalku, orangtuaku hingga saudara-saudaraku beserta umur dan pekerjaan mereka.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa aku memilih beasiswa Tanoto Foundation. Lalu kujawablah kelebihan yang bisa aku dapatkan dari Tanoto Foundation jika dibandingkan dengan beasiswa yang lainnya.

Mereka lalu melihat formulir yang sebelumnya telah ku isi lengkap. Di dalam formulir itu terdapat juga rincian dana pemasukan dan pengeluaran hidupku perbulan, ini bukan tugas akuntansi loh. Hihi
Lelaki itu bertanya tentang apa saja kegiatanku di kampus dan di luar kampus. Kujelaskan semua organisasiku yang memenuhi seluruh tempat di formulir, cukup banyak, ku sebutkan juga alasan-alasan mengapa aku memilih organisasi tersebut, dengan sangat meyakinkan tentunya.

Ada kegiatan luar kampus yang cukup membuat mereka tertarik, aku telah mendirikan sebuah Rumah Baca dan merupakan salah satu rumah baca yang ada di provinsi Jambi yang kudirikan bersama kakakku di rumah kontrakan kami. . Kebetulah rumah baca itu baru berdiri beberapa bulan sehinga satu-satunya kegiatan rumah baca yang ada pada saat itu adalah pelatihan menulis opini yang outputnya adalah diterbitkan di media cetak.

Kemudian pewawancara laki-laki yang di tengah juga menanyakan tentang hobiku, menulis. aku langsung mikir, kalo misalnya aku bikin disana hobi menyanyi pastilah aku disuruh menyanyi. Tapi nih aku disuruh nulis apa ya?

Ternyata ia menyakan apa yang telah aku dapatkan dari hasil menulis tersebut. Aku langsung bilang deh pencapaian-pencapaian yang sebenarnya minim tapi setidaknya aku sudah punya satu buku antologi. 

Pewawancara lalu menulis judul buku yang aku maksud. Aku sebutin deh judul bukunya lalu dia tulis judul buku yang aku sebutkan itu di sebuah kertas, hmm aku sempat curiga akankan dia akan meneliti buku tersebut? Ya no problem, yang penting aku menceritakan kejujuran, maka buru-buru aku mengatakan bahwa aku menggunakan nama pena disana. Ia menanyakan apakah judul di cover buku itu adalah judul karyaku, maka dengan santai aku menjawab tidak, sambil bertekad dalam hati bahwa antalogiku yang kedua akan memuat judul cover atas judul karyaku.

Ia juga menanyakan apakah aku membawa bukuku saat itu. Maka dengan sedikit terkejut aku menggelengkan kepala, menandakan aku tidak bawa bukuku sama sekali. Dan sang lelaki itu menunjukkan ekspresi yang cukup kecewa. Huft mau gimana lagi, aku kan datang kesini untuk wawancara, bukan untuk jualan buku, eits

Ia juga menanyakan. Apa saja yang aku tulis, kemana saja aku menulis serta kapan saja aku menulis, ku jawab tubian pertanyaan itu dengan sebenarnya. Intinya ia menginginkan aku menjelaskan lebih luas namun aku menceritakan apa yang pantas untuk diceritakan, padat dan tidak berlebihan.

Ia menanyakan kembali, jikalau lolos Tanoto Foundation dan aku diminta untuk menulis untuk Tanoto? akankah aku bisa? Aku jawab bisa dengan meyakinkan, semua jawabannku kuusahakan dengan keyakinan tanpa keraguan. Dia minta kesungguhan lagi, akankah bisa aku menulis untuk Tanoto sebulan sekali misalnya? Aku menjawab bisa, sambil tersenyum saja toh saat ini di salah satu organisasi yang aku geluti, aku menulis untuk semua kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi tersebut, menjadi wartawan sekaligus mengedit beritanya, jika kegiatan yang dilakukan organisasi itu seminggu sekali maka seminggu sekali pula aku menulis.

Lalu mereka juga menanyakan tentang pekerjaan yang saat ini aku jalani yakni menjadi distrubutor makanan khas Jambi, Pisang Sale. Aku memiliki merk tersendiri dengan makanan ini yakni D’ NT, nama ini aku ambil dari gabungan nama aku dan kakakku. Pisang sale ini pun aku titipkan pada salah satu kios yang khusus menjual oleh-oleh khas Jambi.

Ia juga menanyakan seputar essai yang aku tulis ketika tahap seleksi berkas, tentang apa yang akan aku lakukan kedepan. Kujawab lantang, tentu juga dengan alur misi yang telah kubayangkan sebelumnya, jauh sebelum aku memilih agribisnis sebagai jurusanku dalam meraih gelar sarjana. Aku menceritakan semua alur itu dengan runtut dan meyakinkan tentunya, toh impianku memang akan melakukan itu kok, semoga saja.

Nah lalu satu-satunya wanita yang menjadi pewawancaraku saat itu memulai pertanyaan tentang juara berapa saja yang aku dapatkan selama SMA. Aku jawab bahwa aku mendapatkan juara 1 di setiap semesternya. Lalu ia melihat IP-ku yang saat itu di angka cumlaude. Dia bertanya, dengan organisasi yang banyak bagaimana aku bisa mendapatkan IP segitu, aku jawab dengan berbagai motivasi yang aku dapatkan, intinya ya manajemen waktu yang baik. Lalu ia pun menanyakan apakah aku juga tergabung dengan organisasi sosial lainnya.

Dia juga menyanyakan apa kejadian paling menyenangkan dan menyedihkan dalam hidupku. Beberapa detik aku berpikir, kata-kata –yang paling- itu membuatku harus menelisik lembar-demi lembar buku harian di memori otakku lebih jauh ke masa lalu, ada banyak pengalaman menyenangkan, ada banyak pula pengalaman menyedihkan disana. Namun karena tidak mau mereka lama menunggu akupun menceritakannya segera.

Wanita itu memintaku untuk bercerita kesenangan terlebih dahulu, kuceritakan, namun ketika tiba di cerita kesedihan, aku menangis, sungguh aku tidak bisa berkata lagi dalam ruangan dingin yang mencekam itu, aku kehilangan suaraku, lalu bulir air mata mulai keluar dari mataku. Aku tidak bisa melanjutkan ceritaku lagi. Kalo sekarang dipikirin, rasanya malu sekali. Untung si wanita itu buru-buru menyudahi ceritaku, ia lalu kembali bertanya tentang pengalaman menyenangkan, adakah lagi yang ingin aku ceritakan? Maka akupun menggeleng indah.

Ia kemudian menayakan pendapatku tentang Team dan group. Kuceritakan seperti yang pernah kubaca dalam beberapa buku. Aku lupa urutannya, yang pasti mereka juga menanyakan yang aku ketahui tentang Tanoto Foundation. Aku menceritakan yang aku ketahui, yang sebetulnyaa hanya kuketahui dari website resmi mereka tanotofoundation.org, ya hanya disana sumber yang aku dapatkan, cukup banyak dan sudah kuhafal, toh gak ada ruginya juga menghafal riwayat yayasan perusahaan besar ini.

Mereka juga menanyakan tentang perusahaan, pendiri serta apa-apa saja yang menjadi bisnis besar perusahaan ini dan pertanyaan lainnya seputar itu.

Pemintaan terakhir dari mereka adalah aku disuruh meyakinkan mereka bahwa mereka bisa memilih aku untuk menjadi salah satu yang lolos mendapatkan beasiswa Tanoto Foundation. Segera ku bercerita tapi sungguh bagian ini yang membuat aku kecewa, aku seperti blank, hanya 2 alasan yang bisa aku kemukakan dihadapan mereka, aku seperti lupa apa-apa saja keunggulanku yang bisa membuat mereka memilihku. Hingga salah satu lelaki yang paling ujung bertanya.

“Ada lagi?” Itu benar2 pertanyaan dahsyat dan aku menggeleng lagi.
Mereka seperti memperlihatkan wajah-wajah kecewa, akupun kecewa dan seketika itu langsung pesimis, berpikir bahwa sepertinya aku tidak akan lolos seleksi ini.
Lalu mereka bertanya untuk yang terakhir,

“Apakah aku memiliki pertanyaan?”
Aneh kan ya sekarang aku yang boleh bertanya kepada mereka. Segera kumanfaatkan kesempatan ini, kuingat-ingat hal-hal yang tidak kuketahui tentang Tanoto Foundation. Aku lalu mengingat beberapa kata yang tidak kuetahui di dalam website Tanoto Foundation.

Aku lalu bertanya tentang RGE, apa itu RGE ?
Lelaki itupun menjawab tentang RGE, menjelaskan dengan cukup jelas, akupun mengangguk  ria.
Ia lalu bertanya lagi,

“Ada lagi?”
Huft pertanyaan mencekam itu lagi, maka dengan senjata andalan, akupun menggelangkan kepala, rasanya ingin segera berakhir wawancara itu, takut mereka bosan melihatku, apa hubugannya? Hihi
Lalu seorang laki-laki paling ujung berbicara lagi.

“Nah,  sesampainya diluar, kamu tuliskan alamat Rumah Baca kamu serta nomor teleponnya, lalu kamu serahkan sama panitia yang didepan.” Ia menunjuk beberapa Tanoto Scholars yang berada di luar ruangan.

Aku dengan bengong menurut saja, masih dengan sedikit bingung, untuk apa alamat Rumah Baca? Aku lalu berdiri dari tempat duduk, menuju lelaki itu.

“Yaa siapa tahu kami mau nyumbang buku” Ujarnya lagi seperti mengerti ekspresi bingung dari wajahku.

Wah,senyumku langsung merekah kayak bunga mawar, eaak rasanya tuh gak terhitung lagi. Aku senang sekali, serius deh.

“Hah  Boleh boleh,,, “ Jawabku. dengan senyum bahagia itu segera, kemudian menyalaminya lalu menyalami semua pewawancara. Aku melalui pintu dengan perasaan yang sangat lega. Segera kutulis alamat rumah baca di kertas binderku lalu memberikannya pada Tanoto Scholars yang berjaga di pintu masuk.

Aku disambut temanku yang telah menanti lama, kukembalikan almamater yang aku pinjam darinya, kami turun menuju lantai dasar gedung rektorat, menuju perpustakaan seperti rencana semula, dengan sama-sama berharap kami bisa lolos wawancara bersama.

Nah begitulah ceritanya, dan tambahan sedikit. Bahwa selang beberapa bulan, kakakku dihubungi pihak Tanoto Foundation bahwa mereka akan memberikan sumbangan buku untuk Rumah Baca kami. Aku dan kakakku menjemput buku-buku pemberian mereka di sekre Tanoto Foundation Jambi. Ketika itu, beberapa minggu sebelumnya aku telah dinyatakan lolos tahap wawancara beasiswa. Tinggal menanti jadwal penandatanganan penjanjian.



Berikut beberapa tips yang bisa kamu gunakan jika kamu sedang ingin lolos beasiswa :
Sesuai slogan Tanoto Foundation : Don't Give Up Without A Fight, jangan pernah menyerah, lakukan saja sebisa mungkin, belajar dan terus tingkatkan kapasitas diri, karena ini termasuk kompetisi maka kamu harus bisa membuat dirimu dan orang lain yakin bahwa kamu pantas untuk dapat beasiswa ini. Tugas manusia hanya berusaha, nah setelahnya silahkan bertawakal pada Yang Maha Kuasa.

Good luck
Salam TSA Jambi NCS 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ingin Hijrah Ke Pakaian Syar’i? Begini Caranya Agar Istiqomah

Kini kata “hijrah” sudah booming banget ya, oleh karena itu dimana-mana akan mudah kamu temukan cerita, tulisan atau pengalaman orang-orang tentang hijrahnya. Ada cerita dengan alur yang begitu mulus, cerita yang biasa-biasa saja hingga cerita yang begitu pelik dan penuh drama.
Iya, setiapinsan pasti punya cerita hijrahnya sendiri, itupun kalau berani memulainya, jikalau tidak berani memulai maka cerita itu tidak akan aada.
Sebenarnya, apa itu hijrah? Hijrah secara harfiah berarti “meninggalkan”, dan sering diartikan meninggalkan sesuatu yang buruk menuju ke sesuatu yang lebih baik. Sangat mudah memahami arti kata hijrah ini, jika kita saat ini sedang menjalani sesuatu yang buruk dan tidak disukai oleh Allah SWT maka kita harus hijrah dengan melakukan sesuatu yang baik dan disukai oleh Allah SWT.
Ada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang disampaikan ketika beliau hijrah dari Mekah ke Madinah: "Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah …

Bijak dalam Konsumsi Pangan, Bantu Pertahankan Keanekaragaman Hayati demi Sumber Pangan dan Kesehatan

Semakin waktu bergulir maka era pun semakin modern dimana kini mayoritas masyarakat di dunia cenderung menerapkan gaya hidup serba instan dan jauh dari kebiasaan masa lampu, tak terkecuali soal pangan. Kini, tak sedikit masyarakat yang tidak mementingkan dari mana makanan mereka berasal, yang penting hanyalah bagaimana mereka bisa melepaskan rasa lapar melalui makanan-makanan yang enak, mahal atau bahkan makanan yang ter-update.

Mari kita sejenak menelisik ke masa-masa lampau dimana saat itu manusia mengolah makanan dengan rangkaian proses yang panjang. Memang mungkin kamu yang membaca ini tidak pernah merasakan bagaimana proses membuat makanan dari nol tapi kita tahu dari sejarah atau cerita orang tua bahwa dahulunya masyarakat memulai semuanya dari kegiatan menanam, memelihara, memanen, menjemur atau mengeringkan, menunggu berhari-hari atau berminggu-minggu hingga mengolahnya sampai menjadi makanan yang siap disantap, semuanya memerlukan proses yang bersinergi dengan alam sebagai tem…

Ke Kabupaten Bungo? Ini 20 Rekomendasi Wisata yang Bisa Kamu Kunjungi

Bungo merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jambi, Indonesia. Luas wilayah 4.659  km² (9,80% dari luas Provinsi Jambi) dengan populasi 303.135 jiwa (Sensus Penduduk Tahun 2010). Kabupaten ini ber-ibu kota di Muara Bungo. Sebelumnya merupakan pemekaran dari Kabupaten Bungo Tebo. Kabupaten ini terdiri dari 17 kecamatan. Kabupaten ini memiliki kekayaan alam yang melimpah di antaranya sektor perkebunan yang ditopang oleh karet dan kelapa sawit dan sektor pertambangan ditopang oleh batubara. Selain itu Kabupaten Bungo juga kaya akan emas yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Bungo (Wikipedia. Diakses 2019).

Batas-batas wilayah Kabupaten Bungo adalah sebagai berikut:


Utara : Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat
Selatan : Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi
Barat : Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
Timur : Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi

Kota Bungo mengalami perkembangan yang semakin pesat akhir-akhir ini terlebih sejak berdirinya Bandar Udara Muara Bungo yang me…